Oleh : A Katri Atmodjo
Potensi bencana alam di awal musim hujan
dimana tanah yang lama kering dan diguyur hujan secara terus-menerus, sangatlah
rentan mengalami pergerakan dan pergeseran ysng berakibat terjadinya
erosi/longsor. Ditunjang pula dengan minimnya vegetasi yang berakibat kurangnya
sistem perakaran akan membuat daya ikat penahan struktur tanah menjadi lemah.
Hal ini dapat kita lihat melalui berita-berita tentang banjir dan tanah longsor
yang terjadi di beberapa tempat di wilayah Madura baik itu Sampang, Pamekasan
maupaun Sumenep.
Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah
Sumenep yang merupakan instansi yang bertanggung jawab terhadap pembangunan
sektor kehutanan di Wilayah Madura telah melakukan upaya-upaya preventif
terkait mitigasi bencana erosi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Selain
melalui kegiatan-kegiatan rehabilitasi dan konservasi CDK Wilayah Sumenep juga
melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya tindakan
pencegahan terjadinya bencana erosi sejak dini. Maka dari itu pada hari Kamis
tanggal 5 Maret 2020, CDK Wilayah Sumenep melalui Kepala Seksi Rehabilitasi
Lahan dan Pemberdayaan Masyarakat A. Katri Atmodjo didampingi oleh Yadi salah
satu Penyuluh Kehutanan Ahli Madya melakukan program penyuluhan kehutanan
kepada masyarakat secara on air melalui Siaran Radio Suara Pamekasan
Indah 96.6 FM dengan tema “ Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air
Melalui Penanaman Vetiver sebagai Mitigasi Bencana”. Pemilihan tema tentang
rumput vetiver / akar wangi (Chrysopogon zizanioides L Roberty) ini dilatarbelakangi
oleh terjadinya proses erosi yang sangat akut di daerah hulu dan hulu tengah
pada saat banjir yang ditengarai dengan keruhnya air sungai di daerah
hilir oleh endapan-endapan sedimentasi. Kegiatan penyuluhan melalui Siaran
Radio ini mampu menjangkau seluruh masyarakat pelosok baik dalam maupun luar
daerah sehingga diharapkan lebih efektif menerima informasi yang disampaikan.
Rumput
vetiver di lahan miring rawan longsor
Kemampuan rumput vetiver (Chrysopogon
zizanioides L Roberty) sebagai pilihan utama sebagai tanaman konservasi
pertama kali dilakukan oleh Bank Dunia (World Bank) di India pada pertengahan
tahun 1980. Rumput vetiver ini sangat direkomendasikan untuk ditanam di
area-area dengan kemiringan ekstrim yang rawan erosi seperti dinding kanan kiri
jalan tol, bibir sungai serta daerah bekas tambang karena memiliki system
perakaran yang luar biasa yaitu mencapai 3-5 meter dan memiliki kemampuan yang
setara dengan 1/6 kekuatan baja dengan diameter yang sama yaitu mencapai 75
megapaskal (Sumber : Ketua Kelompok Teknologi Perlindungan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) T. Sembiring). Maka tidak salah jika tanaman
rumput vetiver ini disebut juga sebagai miracle grass.
Kelebihan lain dari rumput vetiver
ini adalah mampu tumbuh dengan baik pada lahan berat (tanah bertekstur
lempung/liat) yang bersifat asam, mengandung Mangan dan Alumunium, tanah
bersalinitas tinggi banyak Natrium, bahkan mampu hidup pada tanah yang
mengandung logam berat seperti As, Cd, Cr, Pb, Hg, Ni, Zn dan Se. (Sumber :
Pedoman Teknis Rumpur Vetiver Kemen PU)
Presiden
RI Ir. H Joko Widodo
Mitigasi bencana dengan penanaman
vetiver/akar wangi (Chrysopogon zizanioides L Roberty) sebelumnya telah
disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo saat menerima para pejabat kepala daerah
di Istana Merdeka (8/1/2020) yang didampingi oleh Kepala BNPB Doni Munardo,
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, dan Sekretaris
Kabinet (Seskab) Pramono Anung. Kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan
penanaman vetiver oleh Presiden RI secara langsung di Desa Pasir Madang,
Sukajaya, Kabupaten Bogor (3/2/2020)








